Manggis, Sang Ratu Buah Asli Indonesia

Manggis merupakan salah satu buah segar yang digemari masyarakat Indonesia dan dunia karena mempunyai rasa dan aroma yang lezat. Buah manggis memiliki perpaduan warna kulit dan daging buah yang indah dengan cita rasa yang lezat, sehingga layak dikembangkan sebagai salah satu komoditas ekspor non-migas. Tak heran, kini manggis menjelma menjadi komoditas dengan nilai ekspor tinggi. Manggis terkenal karena kandungan antioksidannya tiga kali vitamin E sehingga ada yang beriklan konsumsi manggis “make you young a ten years”.

Menurut Prof.Dr. Roedhy Poerwanto, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), kendala utama pengembangan manggis di Indonesia ialah lambatnya pertumbuhan yang disebabkan sistem perakaran yang buruk, sehingga menyebabkan serapan air dan unsur hara rendah, laju fotosíntesis dan laju pembelahan sel pada meristem pucuk rendah.

Berbagai riset terus dilakukan untuk mengetahui secara detail tanaman manggis guna meningkatkan kualitas dan produksi manggis di Indonesia. Salah satu pakar buah tropika IPB, Prof.Dr. Sobir telah melakukan pengelolaan sumberdaya genetik manggis (Garcinia mangostana).

Dikatakannya, teknologi di bidang genetika memungkinkan kita menandai suatu sifat hingga fragment DNA, teknologi ini disebut penanda genetika. Penggunaan teknologi ini terbentang dari karakterisasi sumberdaya genetik tumbuhan yang bermanfaat hingga industri perbenihan. Penanda genetik juga berperan dalam mengungkap keragaman genetik, asal usul, hingga sidik jari genetik.

“Penanda genetik bisa mengungkap asal-usul dan penyebaran tanaman manggis sehingga bisa berperan dalam ilmu pengetahuan dan pemuliaan tanaman. Yang menarik dari manggis adalah penanda genetik membuktikan jika bijinya dibelah tidak ada embrionya. Tapi ketika bijinya dipotong-potong, dari setiap potongan biji tersebut akan muncul tunas,” tuturnya.

Sementara itu, sejak tahun 1940 Horn (peneliti manggis) mengatakan manggis adalah tanaman apomiksis dengan populasi yang seragam secara genetik (hanya ada satu varietas manggis). Penelitian Horn ini dilakukan di Malaysia.

Hasil pengamatan di lapang yang dilakukan Prof. Sobir mengatakan hal yang sebaliknya. Pengamatan di lapang menunjukkan adanya keragaman warna bunga tanaman manggis yang diperkirakan tidak dipengaruhi lingkungan. Pengujian dengan penanda DNA dilakukan Prof. Sobir untuk mengevaluasi kebenaran teori Horn.

“Pengujian dengan beberapa penanda DNA (Isoenzime, RAPD, E-RAPD, AFLD, ISSR dan SSR) menunjukkan bahwa terdapat keragaman genetik di antara individu manggis dari seluruh Indonesia, sehingga pendapat Horn terpatahkan. Hasil penelitian ini menandai penggunaan penanda DNA bagi pengujian varietas dan telah ditambah 13 varietas baru manggis yang dapat dibedakan dengan penanda DNA,” tuturnya.

Pengujian dengan penanda DNA yang digunakan Prof. Sobir ini juga berhasil mengoreksi pendapat Richard yang pada tahun 1990 mengatakan bahwa manggis merupakan hasil persilangan alami dari G. Malaccensis dengan G. Hombroniana. Dari hasil analisis berbagai spesies manggis, dengan 34 karakter morfologi dan anatomi, serta penanda ISSR memberikan bukti baru bahwa G. Celebica lebih dekat ke manggis daripada G. Hombroniana.“Bentuk sel penjaga stomata manggis merupakan intermediate G. Malaccensis dan G. Celebica,” ujarnya.

Perlu dilakukan koreksi terhadap literatur yang mengatakan bahwa titik awal pembentukan manggis berasal dari Malaysia. Literatur tersebut mengatakan, pola penyebaran manggis berawal dari Malaysia, lalu berlanjut ke daerah Kerinci dan Jambi (Sumatera), kemudian menyebar ke Tembilahan, Purwakarta dan Bulukumba. Terhadap informasi tersebut, Prof. Sobir melakukan pengujian dengan penanda DNA. Penanda DNA digunakan untuk mengungkap pola perpindahan tanaman manggis. “Hasil analisis populasi manggis menunjukkan bahwa pola perpindahan yang terjadi adalah dari Purwakarta, lalu ke Tembilahan, baru ke Kerinci dan Bulukumba.Hasil tersebut memberi bukti baru bahwa manggis kemungkinan besar bukan berasal dari Malaysia melalui Sumatera, karena tetua manggis ada di Purwakarta. Artinya manggis berasal dari Indonesia, yaitu berawal di Purwakarta, Jawa Barat,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *