IPB Leading dalam Komersialisasi Inovasi Perguruan Tinggi

Dalam rangka memperingati Hari Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Sedunia Tahun 2015, Direktorat Jenderal HKI Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) RI memberikan penghargaan untuk beberapa kategori, salah satunya adalah kategori “Perguruan Tinggi dengan Komersialisasi Paten Terbanyak”. Untuk kategori ini, IPB terpilih sebagai penerima penghargaan tersebut. Penghargaan secara resmi diserahkan oleh Menteri Hukum dan HAM RI, Yasonna H. Laoly, kepada Rektor IPB, Prof.Dr Herry Suhardiyanto, di Jakarta pada 7 Mei 2015.

Direktur Riset dan Inovasi IPB Prof.Dr Iskandar Z Siregar mengatakan, sebagai perguruan tinggi berbasis riset, IPB telah menghasilkan 290 inovasi (data sampai 2014), 69 diantaranya telah granted. Selain itu, IPB juga telah mendaftarkan 13 merk IPB, 4 diantaranya telah granted.  Selama 7 (tujuh) tahun terakhir (2008-2014), IPB menyumbang 38,56 persen karya inovatif secara nasional versi Business Innovation Center (BIC).

Ia menjelaskan, status IPB sebagai Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara/BHMN (PP No. 154/2000) yang saat ini menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum/PTN BH (PP No. 66/2013), secara terencana dan sistematis mulai melakukan upaya-upaya komersialisasi terhadap hasil riset inovasi, khususnya yang berbasis paten (HKI), baik melalui satuan usaha akademik, satuan usaha penunjang, maupun satuan usaha komersial. Sistem HKI dimanfaatkan oleh IPB sebagai instrumen bisnis dalam menjalankan siklus pengelolaan riset dan pengembangan yang berbasis HKI. Upaya mendorong paten dan inovasi IPB dikenal masyarakat dilakukan dengan mendirikan PT Bogor Life Science & Technology (BLST) tahun 2003 sebagai holding company yang diberi mandat untuk mengantarkan sains, teknologi dan inovasi yang dikembangkan IPB ke tataran komersial.

Produk komersial IPB dapat diperoleh di sembilan outlet Serambi Botani yang tersebar di lima kota Indonesia (Bogor, Jakarta, Tangerang, Palembang, Surabaya). IPB mengembangkan Agribusiness Development Station (ADS), suatu model kemitraan untuk meningkatkan pendapatan petani hortikultura dengan membangun sistem yang bersinergi antara produksi dan pemasaran. Selain itu IPB secara aktif melakukan promosi inovasi baik dalam bentuk pameran, temu bisnis, kerjasama publikasi dengan media massa elektronik dan cetak, maupun bekerjasama dengan lembaga intermediasi lain seperti BIC.

“Upaya IPB untuk mendorong penumbuhkembangan inovasi diantaranya melalui forum ABGC (Academic-Business-Government-Community) dan pembangunan IPB Science Park.  Untuk mendorong dosen berkarya inovasi yang prospektif, IPB memberikan seed money mencapai 500 juta rupiah per-inovasi untuk pendanaan start up dalam pengembangan ke skala bisnis. Selain itu juga mengembangkan sistem Technology Readiness Level (TRL) untuk menilai kesiapan hasil riset dan mengembangkan platform “Open Innovation” bekerjasama dengan PT HYVE Inovasi Indonesia,”imbuhnya.

Prof. Iskandar menekankan, “Berbagai tantangan dalam upaya komersialisasi paten menjadi pengalaman bagi IPB untuk mencari solusi dan terus berupaya lebih baik lagi. Sampai dengan saat ini, inovasi IPB berbasis paten yang telah diproduksi dan dipasarkan berjumlah sekitar 8% dari total aplikasi paten IPB. Selain berbasis paten, inovasi IPB lainnya yang telah dipasarkan adalah benih varietas tanaman yang dihasilkan para pemulia tanaman IPB, antara lain pepaya Callina yang dikenal sebagai Pepaya California, cabai CH3, dan padi sawah 3S. Beberapa inovasi berbasis science dan kepakaran IPB yang telah diterapkan dalam industri diantaranya adalah vaksin flu burung Bird Close 5.1 yang diproduksi oleh PT IPB Shigeta dan produksi biological material untuk produksi vaksin polio bekerjasama dengan PT Bio Farma Tbk,” terangnya.

Harapannya, inovasi berbasis paten yang dihasilkan merupakan kontribusi nyata IPB di bidang sains dan teknologi dalam pembangunan nasional. Cepat atau lambat IPB akan terus berupaya menjawab tantangan zaman melalui riset berkualitas, paten yang unggul dan produk yang diterima masyarakat.  Langkah IPB ke depan adalah mendorong paten dan produk komersial sebagai  basis kekuatan institusi pendidikan untuk lebih maju dan bersaing secara global sebagai komitmen memajukan dan mensejahterakan bangsa. Untuk itu, dukungan dari stakeholder terkait sangat diperlukan, antara lain sistem insentif yang konkrit dari pemerintah dan dukungan industri untuk percepatan komersialisasi hasil riset, serta penguatan kerjasama dengan pelaku bisnis dan pemerintah untuk pengembangan inovasi bagi pembangunan daerah berbasis potensi lokal. (Awl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *